<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388</id><updated>2011-04-21T11:57:17.513-07:00</updated><category term='Ummul Mu&apos;minin'/><category term='kritik sejarah'/><category term='Ibrah Sejarah'/><category term='Yahudi'/><category term='Kajian Sejarah'/><title type='text'>Komunitas Sejarah dan Peradaban Islam</title><subtitle type='html'>Islam is Religion, Way of Life, and Civilization</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-1716035740197031057</id><published>2009-04-03T08:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T08:42:00.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibrah Sejarah'/><title type='text'>ZULQARNAIN, MODEL PENGUASA ADIDAYA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ZULQARNAIN, MODEL PENGUASA ADIDAYA&lt;br /&gt;Oleh: Asep Sobari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, pemaparan Al-Qur’an tentang kisah Zulqarnain sangatlah unik. Penguasa besar yang kerajaannya terbentang dari timur hingga barat ini diceritakan hanya dalam enam belas ayat (QS Al-Kahfi: 83-98). Itupun tanpa menjelaskan identitas lengkap, masa pemerintahan dan lokasi kerajaannya. Keunikan ini bukan tanpa alasan. Sayyid Quthb menjelaskan dalam azh-Zhilal, bahwa memang demikianlah karakter umum kisah-kisah Al-Qur’an. Tujuan utamanya bukan aspek kesejarahan, melainkan pelajaran (ibroh) yang dapat dipetik darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulqarnain adalah penguasa adidaya. Al-Qur’an menggambarkannya dengan singkat tapi jelas, “Sesungguhnya Kami telah memberinya kekuasaan di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan [untuk mencapai] segala sesuatu”. (QS Al-Kahfi: 84). Ayat-ayat berikutnya semakin mengukuhkan kekuasaan tersebut. Zulqarnain melakukan perjalanan jauh ke ujung barat dan ujung timur, lalu perjalanan jauh lainnya ke sebuah negeri asing. Lantas, apa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah penguasa besar ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; Asas peradaban Zulqarnain adalah ilmu. Menurut Ibn Abbas, seperti dinyatakan Ibn Katsir dalam at-Tafsir, as-sabab yang diberikan Allah kepada Zulqarnain adalah ilmu. Dengan ilmu inilah Zulqarnain meningkatkan kemampuan (al-qudrah) dan mengembangkan sarana (al-alah) sehingga mampu mencapai kemajuan-kemajuan besar dalam pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; Menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan nilai-nilai wahyu. Falsafah hukum Zulqarnain adalah, menghapus kezaliman dengan menjatuhkan sanksi berat kepada pelakunya, dan memberi banyak kemudahan kepada orang-orang yang gemar kebaikan (QS Al-Kahfi: 87-88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan semacam ini sangat efektif dalam membangun kekuatan dalam negeri. Karena ketika orang-orang baik mendapat tempat, kemudahan dan balasan yang setimpal, sementara orang-orang zalim menerima sanksi, dipermalukan dan dijauhkan dari lingkaran kekuasaan, maka rakyat akan termotivasi untuk semakin baik dan produktif. Demikian yang diungkapkan Sayyid Quthb dalam azh-Zhilal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; Menjunjung kesetaraan, berbagi kemajuan, dan memakmurkan dunia dengan tetap bersikap rendah hati. Inilah prinsip kebijakan luar negeri Zulqarnain, terlebih lagi dengan negara yang lebih kecil dan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ketiga, Zulqarnain tiba di sebuah negeri yang meskipun tampak indah dan kaya akan sumber daya alam, tapi masyarakatnya lemah dan terbelakang. Dikatakan lemah, karena mereka sering menjadi sasaran keganasan Ya’juj dan Ma’juj dan tidak berdaya untuk sekadar mempertahankan diri. Mereka juga terbelakang dalam banyak bidang, terutama budaya dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua indikator keterbelakangan yang dipaparkan Al-Qur’an. Pertama, mereka tidak menguasai bahasa Zulqarnain sehingga sulit berkomunikasi dengan penguasa besar tersebut, “la yakaduna yafqahuna qaula”. Padahal, sebagai penguasa peradaban dunia kala itu, bahasa Zulqarnain adalah bahasa internasional yang sangat populer. Kedua, ketika minta bantuan Zulqarnain untuk melindungi mereka dari Ya’juj dan Ma’juj, mereka hanya mengajukan pembangunan sebuah tembok biasa (as-sadd). Padahal saat itu Zulqarnain sudah menguasai teknologi konstruski tembok dengan meterial berlapis yang jauh lebih kuat (ar-radm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lemah dan terbelakang, wajar jika masyarakat ini memanfaatkan momentum kedatangan Zulqarnain, Sang Penguasa Adidaya, untuk mengiba dan memohon bantuan, agar dapat bertahan dan hidup lebih aman. Untuk memenuhi hajat asasi ini, mereka pun ‘nekat’ membayar jasa Zulqarnain dengan kekayaan alam mareka (al-kharj/al-kharaj).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sikap Zulqarnain? Disinilah Zulqarnain menunjukkan kebesarannya sebagai penguasa adidaya. Dia menolak tegas bayaran tersebut. Baginya, kekuasaan tidak identik dengan keserakahan. Kelemahan dan keterbelakangan bangsa lain tidak dilihat sebagai kesempatan emas untuk mengeksploitasi dan mengeruk habis kekayaan alamnya untuk menunjang kesejahteraan negara maju. Bagi Zulqarnain, kekuasaan adalah amanah peradaban dari Allah swt yang manfaatnya harus dirasakan oleh seluruh penduduk dunia, “Apa yang dikuasakan Allah kepadaku adalah lebih baik [daripada bayaran itu]”. (QS Al-Kahfi: 95).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulqarnain tidak hanya memberi bantuan gratis, tapi juga melibatkan penduduk setempat dalam proyek berteknologi tinggi yang dibangunnya. Artinya, ada upaya pengalihan teknologi dan peningkatan kemampuan masyarakat terbelakang tanpa pamrih apa pun. Simaklah arahan-arahan Zulqarnain berikut, “Maka bantulah aku dengan kekuatan [manusia dan alat-alat], agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, berkatalah Zulqarnain, "Tiuplah [api itu]”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi [merah seperti] api, diapun berkata, "Berilah aku tembaga [yang mendidih] agar aku tuangkan ke atas besi panas itu." (QS Al-Kahfi: 95-96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keteladanan yang diberikan penguasa adidaya yang saleh. Kekuasaan tidak menjadi alat keegoan negara maju untuk tetap tampil sebagai ‘negara besar’, melainkan amanah peradaban yang harus berubah menjadi rahmat bagi semesta alam.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kolom Ibroh, Majalah Islam Sabili No. 18 TH.XVI Maret 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-1716035740197031057?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/1716035740197031057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=1716035740197031057' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/1716035740197031057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/1716035740197031057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2009/04/zulqarnain-model-penguasa-adidaya.html' title='ZULQARNAIN, MODEL PENGUASA ADIDAYA'/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-475524661813572309</id><published>2009-04-03T08:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T08:40:10.208-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibrah Sejarah'/><title type='text'>RAYAP TONGKAT NABI SULAIMAN AS</title><content type='html'>RAYAP TONGKAT NABI SULAIMAN AS&lt;br /&gt;Asep Sobari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak tahu hebatnya kekuasaan Nabi Sulaiman as? Penerus kerajaan Daud as ini dianugerahi Allah swt banyak keistimewaan yang mengukuhkannya sebagai penguasa tanpa tanding. Nyaris semua sarana kekuatan dimiliki dan dikendalikannya. Sulaiman as berhasil menguasai teknologi pengelolaan logam (al-qithr) dan dapat mengendalikan angin sebagai sarana transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami [tundukkan] angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan pula, dan Kami alirkan cairan tembaga baginya”. (QS. Saba’: 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman as juga mengusai bahasa binatang dan mampu berkomunikasi dengan mereka. Mulai burung yang relatif besar hingga semut yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Bala tentara Sulaiman as memiliki kekuatan yang sulit diukur. Pasukannya tidak hanya terdiri dari manusia, tapi jin dan burung pun ikut tergabung di dalamnya. “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib”. (QS An-Naml: 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir memberi penjelasan ilustratif tentang ayat ini, “Allah swt menyampaikan, bahwa suatu ketika Sulaiman bergerak memimpin seluruh pasukannya yang terdiri dari jin, manusia dan burung. Tentara jin dan manusia berjalan mengiringinya, sedangkan burung mengikuti mereka dari atas sambil membentangkan sayap guna melindungi mereka dari sengatan matahari atau curahan hujan. Setiap kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok lebih kecil dan masing-masing punya pemimpin yang selalu mengontrol mereka agar tetap berada dalam barisan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian Sulaiman as terhadap bangsa jin menjadi catatan tersendiri. Di masa itu, jin tidak hanya sebagai tentara yang patuh, melainkan juga bekerja dalam sekian banyak sektor kerajaan. Ada yang menyelam (ghawwash) untuk mengumpulkan perhiasan, bahkan ada pula yang menjadi kuli bangunan (banna’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuasaan yang begitu luar biasa, Sulaiman as tampil sebagai sosok penguasa yang sangat berwibawa sekaligus ditakuti. Jangankan manusia biasa, jin pun terpaksa harus bertekuk lutut di bawah titahnya. Namun, ada satu kejadian unik terkait kebesaran Sulaiman as ini. Ketika wafat, jasadnya tetap berdiri tegak dengan bertumpu pada sebatang tongkat tanpa seorang pun mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah tidak bernyawa, tapi jasad itu tetap ditakuti. Jin yang sedang mengerjakan bangunan terus bekerja siang dan malam karena jerih terhadap hukuman Sang Penguasa Besar tersebut. Mereka baru tahu jika sosok yang selama ini ditakutinya tidak lagi berdaya, setelah rayap-rayap menggerogoti tongkat yang menyangga tubuhnya. Tongkat itu akhirnya rapuh dan jasad Sulaiman pun jatuh. Saat itulah semua orang, termasuk jin, baru tahu kondisi Sulaiman yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti seekor atau sekawanan rayap dalam logika kekuatan? Sulit dibayangkan! Inilah persoalan yang menghantui benak masyarakat dunia ketika merasakan dominasi kekuatan Adikuasa Amerika dan Eropa, atau menyaksikan keangkuhan Zionis Israel yang kian hari semakin menampakkan peradaban fir`aunistiknya, Ana Rabbukum al-a`la (Akulah tuhan kalian yang paling tinggi!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada alasan bagi masyarakat dunia untuk takut kepada kekuatan Amerika atau Zionis Israel. Karena tatanan dunia baru (new world order) yang tengah mereka bangun justru lebih mencerminkan wajah Adikuasa yang sedang ketakutan. Konstruksi peradaban dunia yang mereka bangun berdiri di atas fondasi yang rapuh, karena berasaskan ketimpangan dan kezaliman. Hak veto adalah bukti nyatanya. Mereka merasa harus mendapatkan apa yang diinginkan, bukan karena memang berhak mendapatkannya, tapi karena mereka kuat. Karena itulah mereka terus memperkuat diri agar tampil sebagai satu-satunya kekuatan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jelas, “Mereka yang kuatlah yang sebenarnya ketakutan, sehingga selalu berusaha berlindung dengan kekuatannya”. Kata Jawdat Sa`id dalam buku Lima Hadza ar-Ru`b Kulluh min al-Islam. Namun sayang, umat Islam malah takut kepada mereka, “Karena mengira hanya dapat mempertahankan diri dengan kekuatan, ‘kekuatan otot dan senjata’.” Lanjut Sa`id. Artinya, seyogianya umat Islam membangun logika kekuatannya sendiri sehingga tidak terjebak logika kekuatan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah logika kekuatan rayap tongkat Sulaiman as. Meskipun jelas jauh lebih lemah dari jin, tapi dia sangat mengenali posisinya. Meskipun gerakannya lamban, tapi yang digerogotinya adalah tongkat yang menyangga jasad Sulaiman as. Dalam konteks kekinian, umat semestinya mulai sadar bahwa sebenarnya musuh sangat ketakutan dan rapuh, sehingga tidak perlu menunggu ‘kekuatan mukjizat’ untuk meruntuhkannya, tapi cukup dengan ‘kekuatan rayap’ yang sudah mulai mencuat ke permukaan. Sebut saja Syaikh Ahmad Yasin, Hamas, Gaza, dan tidak menutup kemungkinan jika rayap itu juga adalah kita![]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: Kolom Ibroh, Majalah Islam Sabili No. 17 TH.XVI Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-475524661813572309?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/475524661813572309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=475524661813572309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/475524661813572309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/475524661813572309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2009/04/rayap-tongkat-nabi-sulaiman-as.html' title='RAYAP TONGKAT NABI SULAIMAN AS'/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-8805358688660208655</id><published>2009-04-03T08:30:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T08:42:43.160-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibrah Sejarah'/><title type='text'>ANTARA MEKAH DAN PALESTINA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ANTARA MEKAH DAN PALESTINA&lt;br /&gt;Asep Sobari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, Ibrahim as adalah orang pertama yang menyatukan Mekah dan Palestina dalam peta dakwah. Letak dua kota yang berjauhan tersebut dihubungkan oleh Ibrahim dengan amanah paling agung yang diemban manusia, yaitu membangun peradaban risalah. Peradaban yang menurut DR Majid al-Kilani, tidak hanya memartabatkan jasmani manusia untuk sekedar dapat bertahan hidup (survive), tapi juga mengangkat semua aspek kemanusiaannya agar menjadi hamba Allah yang mulia (mukarram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, peradaban yang dibangun Ibrahim as bersifat universal. Pemilihan batas wilayah geografis adalah bukti pertamanya. Wilayah yang mencakup Delta Mesir, Syam dan Hijaz tersebut merupakan jembatan yang menghubungkan pusat-pusat peradaban dunia kala itu. Dan tentu saja, masyarakat yang hidup di wilayah itu sangat heterogen, multi etnik dan seterusnya. Ibrahim sendiri berasal dari Iraq. Tapi Hajar, isteri keduanya yang melahirkan Isma`il, berasal dari Mesir. Isma`il sendiri kemudian menikah dengan wanita Arab dari kabilah Jurhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidupnya, Ibrahim as menetap di Palestina. Barangkali letaknya di pertengahan wilayah tersebut menjadi alasan utama. Namun demikian, hubungan Palestina dan Mekah terus dibangun dengan baik. Al-Mubarakfuri menyebut dalam ar-Rahiq, setidaknya Ibrahim melakukan empat kali perjalanan ke Mekah untuk menjenguk salah satu sayap keluarganya yang ditinggalkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan ini bukan sekedar kunjungan emosional karena gejolak kerinduan seorang ayah kepada anak dan isterinya. Melainkan merupakan bagian dari rangkaian ujian ekstra berat yang dalam Al-Qur’an disebut al-kalimaat, yang harus dilalui Ibrahim untuk membuktikan tingkat kelayakannya mengemban amanah risalah dan menanam benih peradaban universal (al-ummah). Karenanya, tidaklah mengherankan jika Al-Qur’an kemudian menyebut Ibrahim seorang diri sebagai Ummah (An-Nahl: 120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sudut mana pun, tugas Ibrahim as ini teramat berat. Membangun peradaban baru selalu diwarnai benturan-benturan keras dengan kepentingan kelompok elit yang mapan dalam tradisi peradaban lama, sekalipun nilai-nilainya telah usang. Itulah yang dihadapi para Nabi sepanjang sejarah dakwah mereka. Al-Qur’an selalu menyebut para penentang utama mereka adalah golongan elit (al-mala’) dan hedonis (al-mutrafun). Benturan-benturan ini tidak selamanya dimenangkan oleh para pewaris peradaban risalah, malah bisa sebaliknya, justru mereka yang tersedot arus peradaban lama dan terwarnai oleh nilai-nilai yang telah usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi pada pewaris peradaban Ibrahim yang mendiami Palestina, Bani Israil. Bangsa keturunan Ya`qub ini lebih sering gagal mengejawantahkan misi peradaban Ibrahim as meskipun perjalanan sejarah mereka nyaris selalu disertai seorang Nabi. Nilai universal ajaran Ibrahim as dikerdilkan dan dimanipulasi untuk kemudian dimonopoli menjadi ‘milik’ ras Israel atau Yahudi. Akibatnya sungguh mengerikan, ajaran para nabi diklaim sebagai bukti keunggulan ras. Mereka juga membangun mitologi bahwa bangsa yahudi sebagai bangsa pilihan Tuhan (choosen people) dan Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (promised land) untuk bangsa Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Rasulullah saw., nabi-nabi Bani Israil telah mengecam dan berusaha meluruskan penyimpangan-penyimpangan bangsa yahudi tersebut. Musa as salah satunya. Nabi terbesar Bani Israil ini berupaya membersihkan masyarakat yahudi dari nilai-nilai pagan fir`aunistik hingga harus membawa mereka keluar dari Mesir menuju Palestina, rahim peradaban Ibrahim. Tapi ternyata tidak mudah, Musa as harus membersihkan satu generasi (40 tahun) untuk menyiapkan generasi baru yang akan mengusung peradaban risalah. Kondisi yang tak kalah berat dialami Daud dan Isa `alaihimassalam, sehingga keduanya harus mengeluarkan kecaman yang sangat keras. Al-Qur’an mencatat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas”. (Al-Ma’idah: 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. adalah nabi terakhir yang berupaya meluruskan penyimpangan Bani Israil ini. Perjalanan Isra’ menautkan kembali dua jantung peradaban Ibrahim, Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsha (Mekah dan Palestina) dalam satu cetak biru peradaban risalah yang universal, sekaligus mengakhiri amanah mengusung peradaban dari Bangsa Israil dan mengalihkannya kepada Umat Islam. Berbagai perangkat dan upaya dilakukan Rasulullah saw. untuk menarik Bangsa Israil menjadi bagian dari umat baru, tapi hanya segelintir orang yang menerima. Sementara mayoritas mutlak keturunan Ya`qub itu menolak karena alasan klise, rasisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’.” (Al-Ma’idah: 18). “Dan mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja’.” (Al-Baqarah: 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: Majalah Islam Sabili, No. 16 Pebruari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-8805358688660208655?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/8805358688660208655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=8805358688660208655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/8805358688660208655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/8805358688660208655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2009/04/antara-mekah-dan-palestina.html' title='ANTARA MEKAH DAN PALESTINA'/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-1854427431953881222</id><published>2008-10-15T09:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T09:56:22.838-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik sejarah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;MEMUJA FOUDA, MENFITNAH SAHABAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belum lama ini, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi Indonesia sebuah buku berjudul “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin” , karya Farag Fouda (Judul aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah). Selanjutnya judul buku ini disingkat KYH.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulisnya disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam. Jika kaum Muslim menyebut zaman Khulafaurrasyidin sebagai masa yang ideal, maka Fouda meggambarkan sebaliknya. Menurut Fouda, zaman itu bukanlah masa ideal, tapi “zaman biasa”. “Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan.” (hal.xv).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin karena itulah, kaum liberal di Indonesia sangat bergairah dengan terbitnya buku ini. Pada sampul depan ditulis pujian Prof. Dr. Azyumardi Azra yang dikenalkan sebagai Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah. Terhadap buku ini, Prof. Azra berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan masa depan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada sampul belakang, dimuat komentar Prof. Dr. Syafi`i Maarif yang dikenalkan sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY). Lebih bergairah dari Profesor Azra, Profesor Syafi’i Maarif terkesan begitu terpesona oleh karya Faouda ini, sehingga dia berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benarkah buku Fouda ini memang obyektif dan komprehensif, sebagaimana pujian para profesor sejarah di Indonesia itu? Untuk membuktikannya, silakan simak fakta-fakta berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Farag Fouda adalah seorang doktor Ekonomi Pertanian di Mesir. Dia dikenal sebagai juru bicara yang sangat vokal dari kaum liberal di Mesir. Hidupnya berakhir tragis. Dia ditembak mati pada 8 Juni 1992. Pada 3 Juni 1992, sejumlah ulama al-Azhar membuat pernyataan, bahwa Fouda telah murtad dari agama Islam, karena pendapat-pendapatnya dinilai menghujat Islam. Dalam pengantar buku edisi Indonesia ini, Samsu Rizal Panggabean mencatat, bahwa Ma’mun al-Hudaibi, pemimpin Ikhwanul Muslimin, membenarkan pembunuhan tersebut. Saat menjadi saksi di pengadilan, Syekh Muhammad al-Ghazali mengatakan, seorang muslim yang telah murtad atau keluar dari agama Islam dapat dibunuh. (hal. xii).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Umat Islam memang bisa tersengat imannya dengan opini yang diungkapkan Fouda. Meskipun bukan ahli sejarah Islam, Fouda mengaku “telah membaca sejarah secara tekun, menganalisisnya dengan cermat, mengeceknya dengan teliti” (KYH, hlm. 1). Karenanya, dia berani menuangkan buah pikirannya tentang sejarah yang menurutnya dibingkai dengan “akal sehat” dan menghindari khayalan subyektif yang dapat mendorong terjadinya penambahan atau pengurangan yang melampaui kebenaran sejarah (KYH, hlm. 2). Fouda menegaskan, Kebenaran yang Hilang ditulis “bukan untuk kepentingan propaganda, mengolok-olok ataupun mengejek, tetapi untuk kepentingan kecermatan dan ketelitian dalam mengungkap kebenaran sejarah” (KYH, hal. 2).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah klaim Fouda. Tapi, jika ditelaah pada sumber-sumber yang dirujuknya, kenyataannya jauh panggang dari api. Kajian Fouda bukan hanya sering tidak obyektif, tidak komprehensif, dan tidak jujur. Tapi juga lemah dari segi metodologi. Untuk menentukan kekuatan suatu fakta, Fouda merasa cukup dengan hanya mengutip riwayat minor dari salah satu sumber rujukan, tanpa harus meneliti atau membandingkan dengan riwayat-riwayat lain yang dimuat dalam sumber yang sama, apatahlagi sumber lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sinilah letak kelemahan kajian Fouda yang paling mendasar. Fouda mengutip sumber-sumber sejarah klasik secara sembarangan, sesuai dengan kemauannya. Riwayat-riwayat yang tidak jelas sumbernya, dia kutip sebagai rujukan cerita, dengan menafikan riwayat lain yang jelas dan kuat sumbernya. Cara-cara seperti ini memang biasa digunakan oleh kaum orientalis dalam menulis sejarah Islam. Sayangnya, kaum sekular-liberal, seperti Fouda, juga mengikuti jejak kaum orientalis dalam memberikan citra buruk tentang sejarah Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan metode yang serampangan seperti itu, Fouda membuat gambaran yang sangat tidak beradab (baca: biadab) terhadap Sayyidina Usman r.a. Simaklah gambaran buku ini tentang Usman bin Affan r.a.:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl al-Hall wa al-’Aqdi membuat konsensus untuk melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya terguncang di mata rakyat, sampai sebagian masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan sebagian menghinanya dengan sebutan Na’tsal, sebutan untuk orang Kristen Madinah bernama Na’tsal yang kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya. Hadits Aisyah meriwayatkan: “Bunuhlah Na`tsal, dan terlaknatlah Na`tsal.” (KYH, hal. 25).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman r.a., Fouda menulis secara dramatis kisah kematian Usman dan pemakamannya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan, permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya berlangsung setelah kematiannya....” (KYH, hal. 25)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lebih tragis lagi adalah gambaran Fouda tentang jenazah Sayyidina Usman r.a.:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Mayat Usman harus bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan. Ia ditandu empat orang…dan Abu Jahm bin Huzaifah. Ketika ia disemayamkan untuk dishalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang melarang mereka untuk menyalatkannya… Mereka juga melarangnya untuk dimakamkan di pekuburan Baqi`. Abu Jaham lalu berkata, ‘Makamkanlah ia karena Rasulullah dan para malaikat telah bershalawat atasnya’. Akan tetapi, mereka menolak, ‘Tidak, ia selamanya tidak akan dimakamkan di pekuburan orang Islam. Lalu mereka memakamkannya di Hisy Kaukab (sebuah areal pekuburan Yahudi). Baru tatkala Bani Umayyah berkuasa, mereka memasukkan areal pemakaman Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi`” (KYH, hal. 26).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayyidina Usman r.a. adalah salah satu sahabat Nabi terkemuka yang sangat dihormati oleh umat Islam. Dia juga menantu Nabi saw. Kaum Muslimin tak putus mengirim doa kepadanya bersama shalawat untuk Rasulullah saw. Diri dan hartanya telah diserahkan untuk perjuangan Islam. Tapi, gambaran hebat tentang Usman r.a. itu diporakporandakan oleh Farag Faouda. Bahkan, Fouda berfantasi lebih jauh lagi: ”Usman diposisikan sebagai orang paling hina dan paling sial di antara umat Islam.” (hal.27).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah gambaran sangat tidak beradab tentang Usman r.a. yang dilakukan oleh Fouda yang bukunya dipuji-puji oleh dua guru besar sejarah di Indonesia. Upaya membuat gambaran buruk terhadap Usman itu tidak akan berhasil, sebab data dan caranya memang sangat tidak ilmiah. Bagi sejarawan yang mau menelaah sumber-sumber primer sejarah Islam, tidak terlalu sulit untuk membuktikan kecurangan Fouda dan kenaifan dua Profesor sejarah tersebut.&lt;br /&gt;Fakta sejarah menunjukkan tidaklah benar bahwa para pemuka sahabat yang tergolong Ahl al-Hall wa al-`Aqd sepakat menjauhi Usman dengan cara-cara tak terhormat. Apalagi menyebutkan, bahwa Aisyah menyuruh membunuh Usman. Dalam edisi bahasa Arab ditulis: “Haytsu yurwa ‘an Aisyah qauluha uqtulu Na’tsalan wa la’anallaahu Na’tsalan.” Jadi, menurut Fouda, Aisyah sendiri yang mengutuk Utsman dan memerintahkan pembunuhan terhadap Usman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan cara seperti itu, Fouda sedang menggiring pembaca pada sebuah kesimpulan bahwa pembunuhan Usman sudah selayaknya terjadi. Menurut Fouda, peristiwa tersebut “melibatkan” atau setidaknya mendapat dukungan dari para pemuka Sahabat, seperti Ali, Zubair, Thalhah, Sa`id bin Zaid, Ibn Umar, Ibn Abbas dan lain-lain, yang tergabung dalam Ahl al-Hall wa al-`Aqd. Padahal, faktanya, sama sekali tidak seperti itu. Para sahabat itu sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan Usman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayangnya, Fouda tidak menyebut data yang lebih spesifik dan rujukan yang dapat diukur kebenarannya. Tidak ada riwayat yang jelas dari hadits yang disebutkan Fouda tentang riwayat `Aisyah yang memerintahkan membunuh Usman r.a. Bahkan, `Aisyah ra. sendiri, seperti diriwayatkan Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir dengan sanad yang baik, mengutuk pembunuh Usman, “Usman dibunuh secara zalim. Terkutuklah pembunuhnya” (Muhammad al-Ghabban, Fitnat Maqtal `Utsman, hal. 426).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk membuktikan kesalahan Fouda dalam mengutip sumber-sumber sejarahnya, cukup melacak kitab sejarah yang ditulis al-Thabari dalam subjudul, Dzikr al-Khabar `an al-Mawdhi` al-Ladzi Dufina fihi `Utsman…(al-Tarikh, 2/687). Buku inilah yang dirujuk dengan tidak cermat oleh Fouda. Simaklah fakta-fakta yang tersaji dalam Kitab al-Thabari tersebut:&lt;br /&gt;Terkait masalah prosesi pemakaman Usman, al-Thabari sebenarnya menyebut 9 riwayat dari 4 sumber, dengan urutan seperti berikut; Ja`far bin Abdullah al-Muhammadi (2 riwayat), al-Waqidi (4 riwayat), Ibn Sa`ad (1 riwayat), dan Saif bin Umar (2 riwayat). Riwayat yang dikutip Fouda di atas adalah riwayat ketiga al-Waqidi. Padahal, sebenarnya, kitab ini menyebut sejumlah riwayat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut riwayat pertama al-Muhammadi, Usman dimakamkan di Hasy Kaukab. Riwayat kedua al-Muhammadi: sebuah kebun di luar [Baqi`]. Riwayat pertama al-Waqidi: di Baqi`. Riwayat kedua al-Waqidi: di perkebunan dekat Baqi`. Riwayat keempat al-Waqidi: di Baqi`. Riwayat Ibn Sa`ad: di Hasy Kaukab. Dan riwayat pertama Saif: di areal Baqi` yang berdampingan dengan Hasy Kaukab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenapa Fouda hanya mencatut riwayat ketiga al-Waqidi untuk mendukung argumentasinya? Ini menunjukkan bahwa Fouda menulis sejarah dengan tidak cermat dan tidak komprehensif. Semua riwayat itu adalah lemah, dan anehnya Fouda sengaja mengambil satu saja riwayat diantara riwayat yang lemah. Itupun baru seputar riwayat-riwayat al-Thabari. Sejarawan yang baik tentunya akan berusaha menggali riwayat-riwayat sejenis dari kitab lainnya, misalnya al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad. Dalam kitab ini, Ibn Sa`ad menyebut beberapa riwayat dari `Amr bin Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan Usman dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi` (al-Thabaqat, 3/77-78).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka, bukankah hal yang ajaib, jika seorang Profesor sejarah seperti Syafi’i Maarif menyebut buku Fouda ini sebagai “obyektif dan komprehensif”!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cobalah simak kekeliruan Fouda berikutnya!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fouda menulis bahwa Usman dimakamkan di areal pekuburan Yahudi (KYH, hal. 26). Keterangan tersebut tidak tercantum dalam redaksi riwayat al-Waqidi yang dikutip Fouda. Bahkan juga tidak terdapat dalam riwayat-riwayat lain yang disebut al-Thabari. Penjelasan semacam itu tentu sangat fatal, sebab siapa pun akan membayangkan, Usman r.a. dimakamkan bukan di pemakaman Islam, tetapi di pemakaman Yahudi. Inilah salah satu fitnah dan kejahatan besar yang dilakukan Fouda dalam melecehkan menantu Rasulullah saw dan salah satu sahabat Nabi terkemuka. Maka, aneh sekali, jika manusia seperti Fouda ini justru didukung dan dibanggakan oleh dua sejarawan terkemuka di Indonesia seperti Azyumardi Azra dan Syafii Maarif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kasus pembunuhan Usman sebenarnya telah ditelaah secara mendalam dalam tesis master Muhammad al-Ghabban di Universitas Islam Madinah dengan judul Fitnat Maqtal `Utsman. Dalam tesisnya, al-Ghabban meneliti dengan cermat semua riwayat tentang prosesi pemakaman dan penyalatan Usman. Kesimpulannya, tidak ada satu pun riwayat yang benar-benar shahih, tetapi semuanya lemah. Hanya saja, ada sebagian yang saling menguatkan. Di antaranya, jenazah Usman dishalatkan dan dimakamkan di Hasy Kaukab, sebuah kebun dekat Baqi` yang kemudian dimasukkan ke dalam areal Baqi` (Fitnat Maqtal `Utsman, hal. 260-261). Jadi, sebenarnya, riwayat yang menyatakan bahwa Usman dimakamkan di pemakaman Yahudi, sama sekali tidak ada, dan itu adalah fantasi Fouda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Farag Fouda telah menjadi sejarah. Karyanya sama sekali tidak layak masuk kategori buku sejarah yang komprehensif. Maka, seyogyanya, orang-orang seperti Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Syafi’i Maarif lebih berhati-hati dalam menilai suatu karya sejarah. Tidaklah patut bersorak gembira menyambut satu karya, hanya karena karya itu luar biasa dalam menggambarkan keburukan generasi sahabat Nabi saw dan hitamnya sejarah Islam. Apalagi itu dilakukan oleh seorang guru besar sejarah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebaiknya, sebelum berkomentar, periksalah sumber-sumber aslinya. Juga, periksa juga &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;terjemahan edisi Indonesianya. Sebab, banyak sekali kesalahan fatal dalam terjemahan. Misalnya, ditulis: “Umair bin Dzabi`i datang meludahinya, lalu ia mematahkan salah satu persendiannya” (KYH, hal. 26). Kalimat fa naza `alaih seharusnya diartikan “melompat atau menyergap kearahnya”, bukan ”datang meludahinya”. Sedangkan kasara dhil`an seharusnya diartikan “mematahkan salah satu tulang rusuk”, bukan ”persendian”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kekayaan al-Zubair di Mesir, Aleksandria, Kufah dan Basrah yang dalam teks asli riwayat Ibn Sa`ad disebut Khithath dan Dur disalah-artikan menjadi armada laut dan angkutan darat! Padahal arti semestinya adalah “beberapa bidang tanah” dan “beberapa rumah.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirul kalam, sebagai peminat sejarah, yang bukan porfesor dan bukan doktor, saya hanya bisa menyarankan, agar orang-orang terhormat dalam bidang sejarah itu bisa menjaga kehormatannya, di dunia dan akhirat! Ingatlah, tanggung jawab keilmuan sangat berat, apalagi menyangkut harkat dan martabat seorang sahabat Nabi saw yang mulia, yang Nabi sendiri telah memuji dan memuliakannya. Lagi pula, apa untungnya mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-1854427431953881222?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/1854427431953881222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=1854427431953881222' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/1854427431953881222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/1854427431953881222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2008/10/memuja-fouda-menfitnah-sahabat-belum.html' title=''/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-7783162268451950300</id><published>2008-08-03T15:42:00.001-07:00</published><updated>2008-08-04T12:43:34.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yahudi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;HUBUNGAN YAHUDI-ISLAM DI MASA RASULULLAH SAW&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asep Sobari, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah Rasulullah saw. Berhubungan dengan Penganut Yahudi di Mekah?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ayat Al-Qur’an yang menyinggung Bani Isra’il dan agama Yahudi. Kedudukan mereka sebagai Ahl al-Kitab menjadi sorotan tersendiri, karena sepatutnya merekalah orang yang lebih cepat menerima ajaran Al-Qur’an yang merupakan penerus dan membenarkan ajaran asli Taurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persinggungan wacana yang dikembangkan dalam Al-Qur’an mendahului kontak fisik antara Rasulullah saw. dan kaum muslimin dengan masyarakat Yahudi. Meskipun sulit dipungkiri adanya sejumlah saudagar Yahudi yang berdagang ke Mekah dan tinggal disana untuk urusan berbisnis, namun tidak ada fakta yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah berhubungan dengan mereka, terlebih lagi dalam masalah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tentang masayarakat Yahudi tentu diketahui, bahkan dikuasai dengan baik oleh Rasulullah saw. Selain cepat atau lambat, pasti akan berhubungan dengan penganut Taurat tersebut, harapan Rasulullah saw. untuk menemukan alternatif pusat dakwah Islam selain Mekah, mendesak beliau untuk mengetahui lebih detail kondisi masyarakat-masyarakat di sekitarnya, termasuk Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saat menemui sekelompok pemuda Khazraj di Mina, pertanyaan pertama yang beliau sampaikan adalah, “Apakah kalian orang-orang yang beraliansi dengan Yahudi?”. (Ibn Hisyam: 428). Tampaknya beliau sudah sangat menguasai seluk beluk karakter sosial Madinah, termasuk hubungan Aus dan Khazraj dengan klan-klan Yahudi yang tinggal berdampingan dengan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Dakwah Rasulullah saw. kepada Masyarakat Yahudi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dakwah Rasulullah saw. dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat Bukhari dan Ibn Ishaq mengisyaratkan kedatangan Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi Bani Qainuqa`, dan keputusannya memeluk Islam terjadi hanya beberapa saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah saw. kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya (al-Mubarakfuri: 140).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Piagam Madinah; Konsepsi Konstitusi Islam untuk Masyarakat Plural&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Rasulullah saw. ke Madinah secara langsung menjadi penguasa baru di kota tersebut, karena Aus dan Khazraj, dua klan Arab yang mendominasi Madinah, adalah pihak yang mengundang sekaligus mengangkat beliau sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang masyarakat Madinah yang sangat majemuk, karena terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi, mendesak adanya peraturan umum yang mengatur kehidupan bersama dengan baik. Disinilah letak pentingnya Piagam Madinah yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. berdasarkan kaedah dan prinsip Islam. Hal ini juga membuktikan, ajaran Islam dapat mengatur kepentingan bersama masyarakat muslim dan non muslim, tanpa harus menghilangkan karakter khas masing-masing, terutama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mubarakfuri merangkum beberapa bagian pasal Piagam Madinah yang mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut,&lt;br /&gt;1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min. Orang-orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orang-orang muslim berhak menjalankan agama mereka…begitu juga klan-klan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf.&lt;br /&gt;2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orang-orang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini.&lt;br /&gt;4. Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan.&lt;br /&gt;5. Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong.&lt;br /&gt;6. Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh.&lt;br /&gt;7. Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihak-pihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah `azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah saw.&lt;br /&gt;8. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan pendukungnya (al-Mubarakfuri: 182).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pengkhianatan dan Konspirasi Yahudi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dipandang dari sudut mana pun, bagi masyarakat Yahudi, kedatangan Rasulullah saw. dan kaum muslimin ke Madinah tidak menguntungkan. Keharmonisan Aus dan Khazraj adalah ancaman terbesar sejak lama, apalagi ditambah pihak ketiga yang menjadi kekuatan baru yang semakin merekatkan hubungan mereka. Masyarakat Yahudi tidak pernah dapat menghapus trauma kehadiran pihak asing yang bertentangan dengan kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, masyarakat Muhajirin Mekah adalah pedagang-pedagang handal. Sejak hari-hari pertama kedatangannya, Abdurrahman bin `Auf telah menunjukkan kepiawaian dalam meraih keuntungan di pasar Bani Qainuqa` (Bukhari: no. 1908). Seiring dengan perjalanan waktu, Usman bin `Affan, Zubair bin `Awwam dan nama-nama populer lainnya dalam kancah perdagangan Arab masa itu menjadi pesaing-pesaing berat bagi pedagang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan di pasar diperparah dengan keputusan Rasulullah saw. membangun pasar baru bagi kaum muslimin (al-Karami: 169) dan kehadiran aturan-aturan baru dalam segala transaksi ekonomi. Larangan menipu, menimbun, menjual khamr dan praktik riba, adalah diantara yang semakin mengekang sistem ‘pasar bebas’ yang berkembang sebelumnya. Khamr (arak) merupakan komoditi yang sangat potensial bagi masyarakat Yahudi. Selain menjajakan arak lokal, mereka biasa mengimpornya dari Syam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua faktor di atas, selain tentu saja keyakinan dan agama, meningkatkan ketegangan antara Yahudi dan kaum muslimin. Beberapa fakta membuktikan adanya usaha individu ataupun kolektif kelompok Yahudi untuk memicu perselisihan hingga perang besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Benih-benih Pengkhianatan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Ishaq meriwayatkan, Syas bin Qais, seorang sesepuh Yahudi melewati sekelompok pemuda Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul. Mereka terlibat perbincangan yang hangat dan harmonis. Pemandangan ini membakar hati Syas, maka segera ia suruh seorang pemuda Yahudi untuk ikut dalam pembicaraan tersebut dengan mengingatkan mereka kepada peristiwa kelam di masa lalu, perang Bu`ats yang telah menelan korban tokoh-tokoh besar Aus dan Khazraj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan segera berubah menjadi ketagangan. Kedua kelompok Anshar tersebut nyaris saja baku hantam, bahkan terlibat pertumpahan darah, jika saja Rasulullah saw. tidak segera datang dan melerai. (Ibn Hisyam: 553-554).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Ka`b bin Asyraf, tokoh terkemuka Bani Nadhir, merupakan model paling krusial penaburan benih pengkhiantan dalam skala individu. Kelihaian menggubah puisi, media propaganda paling efektif masa itu, menempatkan Ka`b dalam posisi yang sangat membahayakan. Setelah kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, Ka`b menunjukkan permusuhannya secara terbuka. Ia segera pergi ke Mekah untuk mengucapkan simpati dan bela sungkawa atas terbunuhnya pembesar-pembesar Quraisy di Badar dalam rangakaian puisi yang menyayat hati. Tidak cukup disitu, ia juga mengobarkan semangat Quraisy untuk segera melupakan kekalahan dan menyiapkan pembalasan yang jauh lebih hebat (al-Shallabi: 2/56-58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Konspirasi Yahudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bani Qainuqa` adalah klan Yahudi yang lebih dulu menunjukkan aksi pengkhianatan kolektif terhadap kesepakatan Piagam Madinah. Kemenangan kaum muslimin di Badar membuka mata mereka, bahwa kekuatan dan dominasi kaum muslimin di Madinah menjadi kenyataan. Bagi Bani Qainuqa`, ketergantungan ekonomi kepada mekanisme pasar yang mereka kuasai tidak lagi menggairahkan seperti dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya benih pengkhiantan kolektif Bani Qainuqa` telah tercium oleh Rasulullah saw. Menurut Abu Dawud, beberapa saat setelah kembali dari Badar, Rasulullah saw. mengumpulkan Bani Qainuqa` di pasar mereka untuk memberi peringatan. Namun juru bicara Bani Qainuqa` malah menjawab, “Hai Muhammad! Jangan pernah merasa bangga hanya karena berhasil membunuh segelintir orang-orang Quraisy yang tidak pandai berperang itu. Seandainya kami yang menjadi lawanmu, engkau baru akan tahu, kamilah tandinganmu yang sebenarnya. Dan, engkau tidak akan banyak berkutik melawan kami”. (al-Mubarakfuri: 226)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatas perlawanan verbal, Rasulullah saw. hanya melihatnya sebagai indikator pengkhianatan. Tapi setelah terjadi kasus pelecehan wanita muslim di pasar Bani Qainuqa` yang disusul dengan pembunuhan lelaki muslim yang membelanya, Rasulullah saw. mengepung Bani Qainuqa` lalu mengusir mereka dari Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan Ka`b bin Asyraf dan pengusiran Bani Qainuqa` dari Madihan cukup meredam gejolak pengkhianatan klan Yahudi lainnya. Tapi kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud dan tragedi Bi’r Ma`unah menumbuhkan kepercayaan diri Yahudi. Bani Nadhir, klan yang paling kuat saat itu, berkhianat. Diawali dengan memberi perlindungan kepada Abu Sufyan saat melakukan oprasi militer (Perang Sawiq) ke Madinah (Ibn Ishaq: 108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran terhadap salah satu pasal Piagam Madinah tersebut disusul dengan pelanggaran lain. Bani Nadhir tidak bersedia menanggung biaya diyat (denda pembunuhan) yang seharusnya dipikul bersama. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menyusun rencana pembunuhan Nabi saw. (al-`Umari: 146). Rencana busuk itupun terbongkar, sehingga Rasulullah saw. segera mengumumkan ultimatum pengusiran Bani Nadhir dari Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Bani Nadhir berusaha bertahan karena Abdullah bin Ubay, pemimpin kelompok Munafik menjanjikan bantuan (al-Mubarakfuri: 280), tapi kemudian menyerah dan terpaksa meninggalkan Madinah setelah dikepung selama 15 hari. Pada dasarnya, mereka diusir ke Syam, tapi sejumlah tokoh penting Bani Nadhir seperti Huyay bin Akhthab, Salam bin Abi al-Huqaiq dan Kinanah bin Rabi` memutar haluan menuju Khaibar, koloni Yahudi terkuat di Hijaz. (al-Umari: 149).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kelihaian Lobi Yahudi; Kasus Perang Ahzab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ahzab adalah aliansi sejumlah klan Arab besar yang meliputi Quraisy, Ahbasy, Ghathafan bersama sekutunya. Mereka melakukan kesepakatan dengan Yahudi untuk menyerang Madinah. Perang Ahzab yang mencatat rekor fantastik dalam sejarah peperangan Arab saat itu, sebenarnya bisa dikatakan sebagai bukti kelihaian lobi Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sejarawan mengungkapkan, provokator perang Ahzab adalah sebuah tim kecil yang dibentuk di Khaibar dan dipimpin oleh kelompok elit Bani Nadhir, yaitu Salam bin Abi al-Huqaiq, Huyay bin Akhthab, Kinanah bin Rabi`, Haudzah bin Qais dan Abu `Ammar (al-Shallabi: 2/256). Pembentukan tim ini tentu disetujui oleh tokoh-tokoh Yahudi Khaibar sendiri dengan target yang sangat besar, menggalang kekuatan Arab dalam satu pasukan terpadu untuk menyerang Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran tim yang paling realistis adalah dua kabilah Arab, Quraisy dan Ghathafan. Selain merupakan kabilah besar dan memiliki sekutu yang loyal, keduanya memiliki kepentingan langsung dengan Madinah. Menggalang dukungan Quraisy tentu lebih mudah, karena permusuhan mereka dengan Madinah sudah cukup menjadi pemicu utama. Tapi para provokator ini menambahkan dukungan moral yang tidak kecil, yakni memberi pengakuan bahwa agama Quraisy lebih baik daripada agama Muhammad saw. Allah swt. mengecam pragmatisme murahan Yahudi ini dalam surah al-Nisa’: 51-52:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk meraih dukungan Ghathafan, tim Yahudi melakukan kontrak kesepakatan dengan kabilah besar Najed tersebut dalam dua pasal yang saling menguntungkan; 1). Ghathafan harus menghimpun pasukan sebanyak 6000 orang; 2). Yahudi akan membayar klan-klan Ghathafan yang bergabung dalam pasukan tersebut seluruh hasil panen kurma Khaibar dalam setahun (al-Shallabi: 2/257).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobi Yahudi ini berhasil dengan gemilang. Kabilah-kabilah Arab yang telah melakukan kesepakatan itu berdatangan ke Madinah dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Tidak tanggung-tanggung, jumlah mereka mencapai 10.000 pasukan. Jumlah yang disebut al-Mubarakfuri sebagai catatan rekor fantastis dalam sejarah kemiliteran Arab pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tidak cukup dengan menggalang kekuatan Arab. Huyay bin Akhthab berusaha keras membujuk klan Yahudi terakhir yang masih berada di Madinah dan mentaati kesepakatan Piagam Madinah, Bani Quraizhah, untuk mendukung logistik Ahzab dan menggerogoti kekuatan Madinah dari dalam. Lobi inipun akhirnya berhasil. Quraizhah berkhianat, sehingga Madinah semakin terjepit (al-Mubarakfuri: 293). Namun dengan strategi yang jitu dan pertolongan Allah swt., akhirnya kaum muslimin berhasil keluar dari medan perang sebagai pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengkhianatan Bani Quraizhah, habislah kekuatan Yahudi di Madinah. Rasulullah saw. menghukum meraka sebagai pengkhianat perang, semua laki-laki Bani Quraizhah yang terlibat perang dipancung, anak-anak dan wanita ditawan, dan harta benda mereka dirampas (al-Mubarakfuri: 301).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kekuatan Yahudi yang signifikan hanya tersisa di Khaibar. Di tempat inilah tersimpan potensi ancaman yang tidak dapat diremehkan. Selain menjadi rahim yang melahirkan provokasi Ahzab, Khaibar memiliki benteng-benteng yang kuat dan letaknya sangat strategis karena berada di persimpangan jalan yang menghubungkan daerah timur dan selatan Jaziarah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. harus konsentrasi penuh guna melumpuhkan kekuatan Khaibar. Gencatan senjata yang disepakati dengan Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H menjadi momentum yang sangat tepat. Beberapa saat setelah itu Rasulullah saw. langsung melancarkan serangan besar-besaran ke Khaibar dan menang. Masyarakat Yahudi Khaibar yang kebanyakannya petani tidak diusir dari daerah tersebut, melainkan diizinkan tinggal untuk mengelola kebun-kebun Khaibar dan berbagi hasil dengan para pemilik barunya, kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit gambaran kehidupan masyarakat Yahudi, terutama di Madinah, dan persentuhan mereka dengan kaum muslimin pada permulaan sejarah Islam. Penyimpangan dari ajaran taurat yang mengkristal dalam nilai dan sistem yang mendasari kehidupan sosial, ekonomi dan politik, berakibat pada penolakan mereka terhadap ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian bukan berarti seluruh masyarakat Yahudi menolak Islam. Sejarah mencatat bebarapa individu Yahudi memeluk Islam saat itu. Diantaranya adalah Abdullah bin Salam dan keluarganya dari Bani Qainuqa`(Ibn Hisyam: 516)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1523419850520331388#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;; Yamin bin `Amr dan Abu Sa`d bin Wahb dari Bani Nadhir (al-`Umari: 149); dan `Athiyyah al-Qurazhi, Abdurrahman bin Zubair bin Batha, Rifa`ah bin Samuel dan beberapa orang lagi dari Bani Quraizhah (al-Mubarakfuri: 302).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;RUJUKAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Qur’an al-Karim&lt;br /&gt;2. Shahih al-Bukhari [MS]&lt;br /&gt;3. Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah [MS]&lt;br /&gt;4. Al-`Umari, Akram Dhiya’, al-Mujtama` al-Madani fi `Ahd al-Nubuwwah [MS]&lt;br /&gt;5. Al-Mubarakfuri, Shafiy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum, Dar al-Salam-Riyadh, 1418H&lt;br /&gt;6. Al-Shallabi, Ali Muhammad, al-Sirah al-Nabawiyyah; `Ardh Waqa’i` wa Tahlil Ahdats, Dar Ibn Katsir-Beirut, 1425H/2004&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;7. Al-Karami, Hafizh Ahmad `Ajjaj, al-Idarah fi `Ashr al-Rasul, Dar al-Salam-Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1523419850520331388#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Ibn Ishaq menyebut beberapa nama Yahudi lain yang masuk Islam dan disertakan dengan Abdullah bin Salam, yaitu Tsa`labah bin Sa`yah, Usaid bin Sa`yah dan Asad bin `Ubaid (Ibn Hisyam: 557). Tidak menutup kemungkinan mereka juga berasal dari Bani Qainuqa`.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-7783162268451950300?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/7783162268451950300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=7783162268451950300' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/7783162268451950300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/7783162268451950300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2008/08/hubungan-yahudi-islam-di-masa.html' title=''/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-5974509457594859366</id><published>2008-08-01T09:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-01T10:31:02.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ummul Mu&apos;minin'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MELURUSKAN KEMBALI RIWAYAT PERNIKAHAN `AISYAH RA.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asep Sobari, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian Appendix B dari buku yang berjudul Muhammad SAW; The Super Leader-Super Manager karya Dr. M Syafii Antonio M.Ec, tertulis judul yang cukup menarik ‘Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah SAW-`Aisyah ra.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan menarik karena dari tulisan tersebut dapat disimpulkan, `Aisyah ra. tidak dinikahi Rasulullah saw. pada usia 6 tahun dan tentu juga tidak mulai serumah dengan beliau saat berusia 9 tahun, sebagaimana yang dikenal luas saat ini. Menurut tulisan ini lagi, berdasarkan kajian yang dibuatnya, sebenarnya saat `Aisyah menikah, usianya sekitar 17-18 tahun dan serumah dengan Rasulullah saw. pada usia 19-20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikan? Untuk menjawabnya, kita harus tahu lebih dulu pandangan para sejarawan muslim tentang masalah ini. Kemudian mengkritisi argumentasi-argumentasi Dr. Syafii Antonio yang membawa kepada kesimpulannya itu. Setelah itulah kita baru akan mendapat jawaban yang tepat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pernikahan `Aisyah menurut Sejarawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Riwayat pernikahan `Aisyah ra. dengan Rasulullah saw. tentu sangat populer sehingga hampir dipastikan semua sejarawan muslim memuat peristiwa tersebut di dalam karya-karya mereka. Disini kita akan menelusuri pemaparan beberapa sejarawan saja, tapi dengan kapasitas yang cukup representatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad ibn Sa`ad (w.230H): “`Aisyah ra. lahir pada awal tahun 4 Kenabian. Rasulullah saw. menikahinya pada bulan Syawal tahun 10 Kenabian, saat baru berusia 6 tahun tepat satu bulan setelah pernikahan Rasulullah saw. dengan Saudah”. (al-Thabaqat, 8/79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baladzuri (w.279H): “Rasulullah saw. menikah dengan `Aisyah di Mekah. Saat itu `Aisyah berusia 6 tahun –ada juga yang mengatakan 7 tahun--. Dan Rasulullah saw. tinggal serumah dengannya, saat `Aisyah berusia 9 tahun, yaitu pada bulan Syawal tahun pertama hijriyah”. (Ansab al-Asyraf, 1/181).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Jarir al-Thabari (w.310H): “Pada tahun ini (1H) Rasulullah saw. mulai tinggal serumah dengan `Aisyah, tepatnya 8 bulan setelah kedatangan beliau ke Madinah yaitu di bulan Dzul Qa`dah. Ada pula yang mengatakan di bulan Syawal, atau tujuh bulan setelah kedatangan beliau ke Madinah. Rasulullah saw. menikah dengan `Aisyah di Mekah, 3 tahun sebelum hijrah dan setelah Khadijah wafat. Ketika itu `Aisyah baru berusia 6 tahun, tapi ada pula yang mengatakan usianya 7 tahun”. (al-Tarikh, 2/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Katsir (w.774H): “Pernikahan itu terjadi dua tahun…sebagian mengatakan tiga tahun sebelum hijrah. Ketika itu usia `Aisyah 6 tahun dan baru tinggal serumah dengan Rasulullah saw. saat usianya 9 tahun”. (al-Bidayah wa al-Nihayah, 8/99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para sejarawan klasik hingga abad 8 hijrah dapat dikatakan sepakat tentang tahun pernikahan `Aisyah ra. dan usianya saat menikah, juga saat mulai tinggal serumah dengan Rasulullah saw., lantas bagaimana Dr. Syafii Antonio dapat membuat kesimpulan yang jauh berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa argumentasi yang dikemukakan Dr Syafii Antonio. Tapi argumentasi-argumentasi itu bermuara pada satu titik, periwayatan usia pernikahan `Aisyah tersebut lemah dan tertolak. Alasannya dapat diuraikan seperti berikut (halaman, 303),&lt;br /&gt;1. Riwayat-riwayat pernikahan `Aisyah hanya memiliki jalan periwayatan tunggal, yaitu Hisyam ibn `Urwah dari ayahnya.&lt;br /&gt;2. Hisyam ibn `Urwah meriwayatkannya setelah tinggal di Iraq. Hisyam pindah ke Iraq setalah lanjut usia, yaitu 71 tahun, atau setelah kualitas ingatannya sangat menurun.&lt;br /&gt;3. Para ulama, seperti Malik ibn Anas, menolak periwayatan Hisyam yang dilaporkan oleh para perawi Iraq.&lt;br /&gt;4. Alhasil, riwayat umur pernikahan `Aisyah ra. yang bersumber dari Hisyam ibn `Urwah tertolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biografi Singkat Hisyam ibn `Urwah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Hisyam ibn `Urwah ibn Zubair ibn `Awam dari Klan Bani Asad-Quraisy. Ayah Hisyam, `Urwah lahir dari pasangan Zubair ibn `Awam dengan Asma’ binti Abu Bakr al-Shiddiq (Thabaqat Khalifah, 1/420). Asma’ adalah kakak perempuan `Aisyah ra. dari lain ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisyam ibn `Urwah lahir di Madinah pada tahun 61H dan wafat di Bagdad tahun 146H. Ia lebih tepat dimasukkan dalam generasi tabi`i al-tabi`in senior. Hisyam masih berjumpa beberapa sahabat Rasulullah saw. seperti Abdullah ibn Umar, Jabir ibn Abdullah, Anas ibn Malik dan Sahl ibn Sa`ad. Hisyam masih sempat berguru kepada Abdullah ibn Zubair, sahabat Nabi saw. yang juga pamannya. Sementara guru-gurunya yang lain dari generasi tabi`in, seperti ayahnya, `Urwah ibn Zubair, Wahb bn Kaisan, Muhammad ibn al-Munkadir, Ibn Syihab al-Zuhri dan lain-lain (Tarikh Baghdad, 6/186).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama hadits menilai Hisyam sebagai ulama terkemuka (al-mam) dan menyematkan gelar ulama besar (Syaikh al-Islam). (Mizan al-I`tidal, 4/301-302). Ibn Hibban memandang kesalehan dan kekuatan hapalannya terpercaya sehingga menggolongkannya dalam kategori perawi-perawi tsiqah (Tahdzib al-Tahdzib, 11/46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Dzahabi membantah pernyataan sebagian kalangan yang meragukan kekuatan hapalan Hisyam ibn `Urwah, termasuk setelah pindah ke Iraq. Menurutnya, "Kekuatan hapalan Hisyam berkurang tapi dia tidak pernah pikun…memang, hapalan Hisyam sedikit menurun (taghayyara qalilan) dan tidak sekuat seperti ketika masih muda. Dia lupa dengan sebagian hapalannya atau keliru….setelah pindah ke Iraq di tahun-tahun terakhir hidupnya, Hisyam menyampaikan sekian banyak riwayat haditsnya. Dari semuanya itu sedikit sekali yang tidak dikuasainya dengan baik. Masalah yang lumrah dan juga pernah dialami Malik, Syu`bah, Waki`dan para perawi tsiqah terkemuka lainnya". (Mizan al-I`tidal, 4/301-302).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu berlebihan jika ingatan Hisyam dimasa tuanya dinilai sangat menurun. Apalagi ketika dikaitkan dengan riwayat pernikahan `Aisyah ra. yang masih merupakan adik perempuan neneknya. Karena itulah, Imam Bukhari setidaknya mencantumkan empat riwayat Hisyam ibn `Urwah tentang pernikahan tersebut dan semuanya dari laporan para perawi Iraq, yaitu Ali ibn Mushir al-Kufi (w.189H) [no.hadits 3605], Abu Usamah Hamad ibn Usamah al-Kufi [no. hadits 3607], Wuhaib ibn Khalid al-Bashri (w.165H) [no. hadits 4739] dan Sufyan al-Tsauri [no. hadits 4761].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Betulkah Hisyam Satu-satunya Perawi Riwayat Pernikahan `Aisyah ra.?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak sekali riwayat pernikahan `Aisyah ra. yang berdasarkan periwayatan Hisyam dari ayahnya. Kedekatan hubungan keluarga dengan `Aisyah ra. menjadi alasan tersendiri yang menguatkan mengapa begitu banyak ulama hadits yang menggunakan riwayat Hisyam dalam karya-karya mereka, termasuk Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak benar jika Hisyam adalah perawi tunggal riwayat-riwayat yang menyatakan `Aisyah ra. menikah pada usia 6 atau 7 tahun dan mulai serumah dengan Rasulullah saw. pada usia 9 tahun. Imam Muslim setidaknya mencantumkan dua jalan periwayatan pernikahan tersebut yang bukan berasal dari Hisyam ibn `Urwah. Riwayat pertama melalui jalan al-Zuhri dari `Urwah [no. hadits, 2549]. Sedangkan riwayat kedua melalui jalan Abu Mu`awiyah dari al-A`masy dari Ibrahim al-Nakha`i dari al-Aswad [no. hadits, 2550].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Riwayat-riwayat Lain Pernikahan `Aisyah ra.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, riwayat-riwayat pernikahan `Aisyah ra. juga banyak yang menggunakan selain jalur Hisyam ibn `Urwah dari ayahnya, atau dari jalur Hisyam tapi bukan berdasarkan laporan perawi Iraq. Berikut adalah contohnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibn Sa`ad meriwayatkan dari Muhammad ibn `Ubaid al-Thanafisi dari Muhammad ibn `Amr dari Abu Salamah ibn Abdurrahman dan Yahya ibn Abdurrahman ibn Hathib (al-Thabaqat, 8/57).&lt;br /&gt;2. Ibn Sa`ad juga meriwayatkan dari al-Waqidi dari Abdurrahman ibn Abu al-Zinad dari Hisyam dari `Urwah (al-Thabaqat, 8/59). Perlu dicatat, Abdurrahman ibn Abu al-Zinad yang melaporkan dari Hisyam dalam sanad riwayat ini, bukan berasal dari Iraq melainkan Madinah (Tadzkirat al-Huffazh, 1/247).&lt;br /&gt;3. Al-Baladzuri meriwayatkan dari Abdullah ibn Abu Syaibah dari Abu Mu`awiyah dari al-A`masy dari Ibrahim al-Nakha`i dari al-Aswad (Ansab al-Asyraf, 1/181).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah kesimpulan dari uraian diatas,&lt;br /&gt;1. Hisyam ibn `Urwah adalah ulama besar hadits dengan kualitas periwayatan dan ingatan yang diakui oleh para kritikus hadits. Di masa lanjut usia, daya ingatannya hanya sedikit berkurang dan tidak banyak berpengaruh terhadap riwayat-riwayatnya.&lt;br /&gt;2. Hisyam ibn `Urwah bukan satu-satunya perawi yang menyampaikan riwayat pernikahan `Aisyah ra., melainkan ada beberapa perawi lain seperti al-Zuhri dari `Urwah dan al-A`masy dari Ibrahim al-Nakhai. Kedua jalan periwayatan ini digunakan Imam Muslim untuk mendukung pernikahan `Aisyah dalam usia 6 atau 7 tahun.&lt;br /&gt;3. Riwayat Hisyam ibn `Urwah dari ayahnya tidak hanya dilaporkan oleh para perawi yang berasal dari Iraq, tapi juga dilaporkan oleh Ibn Abu al-Zinad yang berasal dari Madinah.&lt;br /&gt;4. Pernikahan `Aisyah ra. dengan Rasulullah saw. dalam usia 6 atau 7 tahun dan mulai serumah dengan beliau pada usia 9 tahun didukung oleh banyak sekali riwayat yang sebagiannya sangat kuat dan terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rujukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma`il, Shahih al-Bukhari [MS]&lt;br /&gt;· Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim [MS]&lt;br /&gt;· Ibn Sa`ad, Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra [MS]&lt;br /&gt;· Al-Baladzuri, Ahmad ibn Yahya, Ansab al-Asyraf [MS]&lt;br /&gt;· Al-Thabari, Muhammad ibn Jarir, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah-Beirut.&lt;br /&gt;· Al-Baghdadi, Abu Bakr al-Khathib, Tarikh Baghdad [MS]&lt;br /&gt;· Ibn Katsir, Isma`il, al-Bidayah wa al-Nihayah [MS]&lt;br /&gt;· Ibn Khayyath, Khalifah, Thabaqat Khalifah ibn Khayyath [MS]&lt;br /&gt;· Al-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh &amp;amp; Mizan al-I`tidal [MS]&lt;br /&gt;· Al-`Asqalani, Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib [MS]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-5974509457594859366?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/5974509457594859366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=5974509457594859366' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/5974509457594859366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/5974509457594859366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2008/08/meluruskan-kembali-riwayat-pernikahan.html' title=''/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-902426200384956096</id><published>2008-07-29T03:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-03T16:04:37.511-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yahudi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SJBZyFRFnjI/AAAAAAAAABc/4G0z_EKUkWM/s1600-h/alaqsamasjid.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228777884319325746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SJBZyFRFnjI/AAAAAAAAABc/4G0z_EKUkWM/s400/alaqsamasjid.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;MASYARAKAT YAHUDI DI HIJAZ SEBELUM ISLAM &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asep Sobari, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak sumber sejarah yang menjelaskan asal-usul keberadaan Yahudi di wilayah Hijaz yang meliputi Mekah, Madinah, Thaif, Khaibar, Fadak, Taima dan sekitarnya. Sumber sejarah yang ada, terbatas pada beberapa catatan sejarawan muslim, yang berarti penulisannya dilakukan setelah kedatangan Islam. Sementara catatan sejarah sebelum Islam, bisa dikatakan sangat langka. Itupun terbatas pada ungkapan para penyair dalam puisi-puisi mereka. Alhasil, permulaan kedatangan masyarakat Yahudi ke Hijaz tidak dapat dipastikan, karena tidak didukung data dan fakta yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbagai indikator menunjukkan, keberadaan masyarakat Yahudi di tanah Hijaz sudah berlangsung sejak lama. Kondisi politik yang tidak di stabil di Palestina sejak penyerangan Babilonia hingga Romawi, mendesak masyarakat Yahudi mencari perlindungan bahkan pemukiman baru di pelbagai daerah, terutama daerah-daerah yang memiliki hubungan langsung dengan Palestina, seperti Hijaz. Selain faktor politik di Palestina, kesuburan tanah di beberapa wilayah Hijaz, seperti Yatsrib (Madinah), Khaibar, Taima, Wadi al-Qura dan Fadak, mendorong masyarakat Yahudi untuk menjadikannya sebagai alternatif pemukiman baru bagi mereka (Jawad Ali : 3675).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Sosial Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pemukiman baru tersebut, masyarakat Yahudi hidup berdampingan dengan pribumi yang telah lebih dulu tinggal di tempat itu. Kondisi ini memaksa mereka melakukan penyesuaian dengan budaya dan tradisi lokal. Meskipun di Madinah, Khaibar dan Wadi al-Qura, mereka berhasil mendominasi berbagai aspek kehidupan tapi mereka tetap tidak dapat menghindari tuntutan-tuntutan pragmatis di tempat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpakaian dan nama mengikuti tradisi Arab. Samuel bin Yazid, Zubair bin Batha, Sallam bin Misykam, Huyay bin Akhthab, adalah nama-nama tokoh Bani Qainuqa` dan Bani Nadhir. Komunikasi sehari-haripun menggunakan bahasa Arab, meskipun masih ada pengaruh aksen Ibrani. Bahkan sebagian dari kalangan Yahudi dikenal pandai berpuisi dalam bahasa Arab, diantaranya adalah Ka`b bin Sa`d al-Qurazhi, Sarah al-Qurazhiyah, Rabi` bin Abi al-Huqaiq dan Ka`b bin Asyraf (Jawad Ali: 3738).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya bahasa dan budaya, pernikahan antara etnik Bani Israil dan Arab juga tidak dapat dihindari. Ka`b bin Asyraf adalah contohnya. Menurut salah satu riwayat, ayahnya adalah keturunan Arab Thai’ sedangkan ibunya berdarah asli Bani Israil. Jawad Ali memberi alasan, perkawinan silang antar etnik ini dapat terjadi karena –antara lain—sejumlah orang Arab memeluk agama Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masyarakat Yahudi tiba di Madinah, sejumlah kabilah Arab kecil telah mendiami kota tersebut. Namun demikian, klan-klan besar Yahudi, seperti Bani Nadhir, Bani Quraizhah dan Bani Qainuqa` berhasil menempati tempat-tempat strategis. Daerah `Awali (Wadi Mudzainib), Wadi Mahzur dan Wadi Buth-han yang merupakan sumber air di Madinah, berhasil dikuasai. Selain tanah, mereka juga menguasai perdagangan. Pasar Bani Qainuqa` menjadi pasar paling ramai dan lengkap, sekaligus jantung perekonomian Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedatangan Aus dan Khazraj, dua klan Arab berasal dari Azd (Yaman), dominasi Yahudi di Madinah mulai pudar. Aus dan Khazraj berhasil menggeser posisi Yahudi meskipun tidak dapat menguasai daerah-daerah subur yang menjadi pemukiman dan kebun mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Aus dan Khazraj yang mengancam hegemoni dan stabilitas masyarakat Yahudi tidak disikapi secara konfrontatif. Masyarakat Yahudi lebih mengutamakan perlindungan internal dengan membangun bangunan-bangunan kokoh di daerah pemukimannya dalam bentuk benteng, atham (semi benteng) dan ratij (rumah berdinding tanah liat). As-Samhudi –dalam kitab Wafa’ al-Wafa—menyatakan terdapat lebih dari 59 atham dan ratij milik Yahudi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam batas lingkungan eksklusif itulah, masyarakat Yahudi melakukan segala aktivitas yang terkait antara sesama meraka, sehingga kondisinya mirip dengan komunitas Ghetto yang identik dengan budaya masyarakat Yahudi di seluruh penjuru dunia semasa diaspora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berhubungan dengan komunitas lain di Madinah, masyarakat Yahudi tampaknya lebih bersikap pragmatis. Perpecahan di kalangan internal Yahudi mendorong mereka untuk membangun aliansi dengan masyarakat Arab guna memperkuat posisinya. Bani Qainuqa` beraliansi dengan Khazraj, sedangkan Bani Nadhir dan Bani Quraizhah beraliansi dengan Aus (al-Syarif: 267).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan internal Yahudi bukan semata-mata strategi jitu mereka untuk memecah belah kekuatan Aus dan Khazraj yang menjadi rival mereka. Sekalipun secara tidak langsung, tujuan tersebut tercapai. Pada kenyataannya, klan-klan Yahudi itu memang pecah, terutama setelah menapaki puncak kekuasaan di Madinah. Bani Nadhir dan Bani Quraizhah memandang status mereka lebih terhormat daripada Bani Qainuqa`. Kedua klan Yahudi tersebut berasal dari garis keturunan al-Kahin (Cohen), keturunan Nabi Harun as yang dikenal relijius dan sangat terhormat (Ibn Hisyam: 2/202).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sebelum kedatangan Aus dan Khazraj hingga masa Islam. Yahudi Madinah tetap menguasai perekonomian kota tersebut. Bani Nadhir dan Bani Quraizhah menguasai tanah-tanah tersubur, sedangkan Bani Qainuqa` mengusai pasar terbesar. Kemahiran masyarakat Yahudi dalam bercocok tanam yang diwarisi dari Palestina juga mereka terapkan. Begitu juga kelihaian membuat perhiasan, pakaian, baju perang, senjata, alat-alat pertanian dan profesi lainnya semakin mengokohkan dominasi mereka atas perekonomian Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan valuta dan praktik riba juga dikenal luas di Madinah. Dalam hal ini, tokoh-tokoh Yahudi dan Arab memainkan peran yang sama. Bunga riba yang dibebankan kepada peminjam kadang-kadang lebih besar dari jumlah utang, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan memicu banyak konflik (al-Syarif: 301-302).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dagang para saudagar Yahudi Madinah dan Khaibar terjalin dengan baik. Letak Madinah sebagai transit kafilah-kafilah dagang Quraisy yang bertolak menuju pasar-pasar besar di Gaza dan Syam tentu dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang domestik Madinah. Begitu juga Khaibar yang terletak di persimpangan jalan dagang kafilah-kafilah Ghathafan dan beberapa kabilah Najed lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pendidikan dan Keagamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan eksklusif masyarakat Yahudi di Madinah menjadi tempat ideal untuk mengembangkan pendidikan dan tradisi keagamaan. Lembaga pendidikan Yahudi di Madinah dikenal dengan nama Bait al-Midras yang berasal dari bahasa Ibrani, Midrash, yang berarti kajian dan penjelasan teks-teks kegamaan. Tampaknya, Midras juga berfungsi sebagai tempat ibadah dan pertemuan penting untuk membahas masalah-masalah agama (Jawad Ali: 4876).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun orang-orang Yahudi tidak tertarik menyebarkan agama, tapi bukan berarti tidak ada orang Arab yang memeluk Yahudi. Kondisi sosial yang majemuk, kebutuhan pragmatis yang berkaitan dengan ekonomi dan keamanan, serta faktor-faktor lainnya, membuat orang-orang Yahudi berkepentingan dengan adanya orang-orang Arab yang memeluk agama mereka. Namun perlu dicatat, pilihan memeluk agama Yahudi ini dilakukan oleh individu-individu dan tidak ada fakta yang menyebutkan perpindahan agama secara masif yang dilakukan oleh satu kabilah Arab secara bersama-sama (al-Syarif: 248).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-902426200384956096?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/902426200384956096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=902426200384956096' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/902426200384956096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/902426200384956096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2008/07/yahudi-madinah.html' title=''/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SJBZyFRFnjI/AAAAAAAAABc/4G0z_EKUkWM/s72-c/alaqsamasjid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1523419850520331388.post-412143549984604275</id><published>2008-07-28T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:28:26.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Sejarah'/><title type='text'>MENULIS ULANG SEJARAH ISLAM*</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SI6VdPpX0nI/AAAAAAAAAAM/3Qhcspcqgx4/s1600-h/bluemasjidkeren.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228280547072529010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SI6VdPpX0nI/AAAAAAAAAAM/3Qhcspcqgx4/s320/bluemasjidkeren.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Persoalan Materi, Metodologi, dan Interpretasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Asep Sobari, Lc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan sejarah ditentukan oleh tiga faktor penting yang sangat menentukan bobot kajian sejarah, yaitu materi, metodologi dan interpretasi, karena ketiganya tidak hanya menjamin otentisitas dan obyektivitas penulisan sejarah, tapi juga dapat menampilkan sejarah sebagai unsur dinamis dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelopor penulisan sejarah Islam dibagi menjadi dua kategori, yaitu :&lt;br /&gt;1) Muhaddits (ahli hadits)&lt;br /&gt;Dari segi metodologi, kelompok Muhaddits memiliki kelebihan karena terseleksi dengan baik, karena adanya penerapan metode hadits dalam riwayat-riwayat sejarah yang mereka catat. Tetapi kelemahan metode ini, adalah terbatasnya jumlah riwayat sejarah dan tidak menampilkan peristiwa secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Akhbari&lt;br /&gt;Kelompok akhbari lebih menonjolkan pengayaan riwayat dalam setiap peristiwa sejarah yang ditulis sehingga dapat menggambarkannya dengan utuh. Selain tidak menerapakan kritik terhadap riwayat sejarah yang dihimpunnya, kecendrungan-kecendrungan subjektif sejarawan akhbari –yang semuanya lahir setelah masa fitnah (kekacauan politik) dan kemunculan aliran-aliran ideologis-, seperti tendensi ideologi, politik dan fanatisme, berdampak besar terhadap bobot riwayat-riwayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan sejarawan ahli hadis, para ahli kritik riwayat hadits menyimpulkan kebanyakan sejarawan akhbari tidak cukup kuat. Bahkan, tidak sedikit yang memiliki tendensi subjektif serius yang berdampak pada lemahnya riwayat yang mereka sampaikan. Persoalan ini menjadi semakin rumit, ketika kita dapati, ahli sejarah sekaliber Ibn Jarir Al-Thabari (310H) yang melahirkan karya monumental, Tarikh Al-Rusul wa al-Muluk, tidak memiliki pilihan lain selain mengutip riwayat-riwayat akhbari dan menjadikannya sebagai referensi penting dalam beberapa bagian bukunya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun demikian At-Thabari mampu membingkainya dalam sebuah kerangka metodologi penulisan yang tegas dan cerdas, yakni mencantumkan semua sanad (para perawi) riwayat akhbari. Sehingga ia membuka jalan bagi setiap pembaca bukunya untuk menakar riwayat-riwayat sejarah akhbari yang tendensius dan tidak logis dengan metode kritik riwayat yang tentu sangat familier pada masanya- sekaligus menolak dirinya dicatut sebagai sumber riwayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memperlakukan buku-buku sejarah klasik, hendaknya tidak menjadikan sebagai rujukan final dan dianggap sebagai kerangka sejarah sejarah Islam yang telah eksis. Melainkan seperti yang dinyatakan Muhibbuddin al-Khatib,” sebagai materi yang sangat kaya untuk dikaji dan diteliti sampai berhasil membangun kerangka sejarah kita darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah jangan diperlakukan lagi sebagai kumpulan fakta dan data dan tidak menjadi tumpukan dokumentasi masa lalu. Tetapi kita harus mampu menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga dalam bentuk rangkaian aturan-aturan Allah (sunnatullah) yang sangat efektif membantu menemukan jalan menuju kemajuan beradaban dan menghindari kesalahan-kesalahan generasi masa lalu. Pelajaran selalu terkandung dalam setiap pelajaran sejarah, tapi Al Qur’an memberi syarat yang sangat ketat agar pelajaran itu dapat dikuasai dan berfungsi semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan buku referensi sejarah dan peradaban Islam di sekolah-sekolah, terutama yang menjadi panduan pada universitas negeri Islam di Indonesia, ternyata memiliki banyak permasalahan.Dalam pemaparannya, narasumber mengungkapkan beberapa permasalahan seperti pada perang Jamal di katakan bahwa Aisyah ditangkap dan ditawan oleh Ali. Padahal jika Aisyah benar-benar menjadi tawanan perang, maka statusnya menjadi budak, dan itu tidak mungkin terjadi. Ali pada saat itu juga melarang untuk mengambil harta rampasan pada saat perang Jamal. Salah satu permasalahan lainnya dalam buku-buku itu adalah penggambaran khalifah Utsman yang dianggap Nepotisme dan digambarkan sebagai sosok yang lemah dan tidak tegas. Hal itu merupakan masalah tersendiri yang perlu diluruskan dengan menulis ulang sejarah Islam. Belum lagi upaya-upaya untuk mencitrakan bahwa sejarah dan peradaban Islam penuh dengan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pelurusan sejarah dan penulisan ulang sejarah Islam ini merupakan tantangan tersendiri, tetapi bukan mustahil. Muhibbuddin al-Khatib menjamin upaya ini sangat mungkin ditempuh dan mudah, asalkan asbabnya terpenuh, yakni memiliki kemampuan yang mmemadai untuk menilai kuat dan lemahnya sumber-sumber sejarah, dan kecerdasan yang mumpuni yang menyimpulkan fakta kejadian sebenarnya, sehingga dapat mengabil sumber berita yang bendar dan memisahkannya dari tambahan-tambahan fiktif. Dan tentunya interpretasi terhadap sejarah tersebut harus dilakukan oleh orang-orang yang takut. Yaitu takut yang tumbuh dari keyakinan dan pengetahuan mendalam terhadap sunnah-sunnah Allah, seperti ulama, atau Uli al-abshar dan Uli al-Albab, yaitu orang-orang yang mampu menggabungkan kekuatan takwa dengan kecerdasan Intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seharusnya umat bangga dengan kegemilangan sejarahnya yang terlalu sulit dicari tandingan dalam sejarah umat mana pun, lalu menjadikannya inspirasi yang sangat berharga guna tampil kembali di pentas peradaban dunia dengan membawa nilai-nilai luhur risalah yang tidak banyak disadari oleh manusia masa kin, bahwa disanalah solusi yang selama ini mereka dambakan untuk mengatasi krisis kemanusian yang kian rumit dan kompleks. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1523419850520331388-412143549984604275?l=sejarahperadabanislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/feeds/412143549984604275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1523419850520331388&amp;postID=412143549984604275' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/412143549984604275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1523419850520331388/posts/default/412143549984604275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarahperadabanislam.blogspot.com/2008/07/menulis-ulang-sejarah-islam.html' title='MENULIS ULANG SEJARAH ISLAM*'/><author><name>Asep Sobari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08134302054361044209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_1CeszPio0oc/SdYjdCCIYSI/AAAAAAAAAB8/ltcnPVgRWiY/S220/asyik.ye_edited.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_1CeszPio0oc/SI6VdPpX0nI/AAAAAAAAAAM/3Qhcspcqgx4/s72-c/bluemasjidkeren.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
