Jumat, 03 April 2009

RAYAP TONGKAT NABI SULAIMAN AS

RAYAP TONGKAT NABI SULAIMAN AS
Asep Sobari

Siapa yang tidak tahu hebatnya kekuasaan Nabi Sulaiman as? Penerus kerajaan Daud as ini dianugerahi Allah swt banyak keistimewaan yang mengukuhkannya sebagai penguasa tanpa tanding. Nyaris semua sarana kekuatan dimiliki dan dikendalikannya. Sulaiman as berhasil menguasai teknologi pengelolaan logam (al-qithr) dan dapat mengendalikan angin sebagai sarana transportasi.

“Dan Kami [tundukkan] angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan pula, dan Kami alirkan cairan tembaga baginya”. (QS. Saba’: 12).

Sulaiman as juga mengusai bahasa binatang dan mampu berkomunikasi dengan mereka. Mulai burung yang relatif besar hingga semut yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Bala tentara Sulaiman as memiliki kekuatan yang sulit diukur. Pasukannya tidak hanya terdiri dari manusia, tapi jin dan burung pun ikut tergabung di dalamnya. “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib”. (QS An-Naml: 17).

Dalam kitab Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir memberi penjelasan ilustratif tentang ayat ini, “Allah swt menyampaikan, bahwa suatu ketika Sulaiman bergerak memimpin seluruh pasukannya yang terdiri dari jin, manusia dan burung. Tentara jin dan manusia berjalan mengiringinya, sedangkan burung mengikuti mereka dari atas sambil membentangkan sayap guna melindungi mereka dari sengatan matahari atau curahan hujan. Setiap kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok lebih kecil dan masing-masing punya pemimpin yang selalu mengontrol mereka agar tetap berada dalam barisan”.

Pengendalian Sulaiman as terhadap bangsa jin menjadi catatan tersendiri. Di masa itu, jin tidak hanya sebagai tentara yang patuh, melainkan juga bekerja dalam sekian banyak sektor kerajaan. Ada yang menyelam (ghawwash) untuk mengumpulkan perhiasan, bahkan ada pula yang menjadi kuli bangunan (banna’).

Dengan kekuasaan yang begitu luar biasa, Sulaiman as tampil sebagai sosok penguasa yang sangat berwibawa sekaligus ditakuti. Jangankan manusia biasa, jin pun terpaksa harus bertekuk lutut di bawah titahnya. Namun, ada satu kejadian unik terkait kebesaran Sulaiman as ini. Ketika wafat, jasadnya tetap berdiri tegak dengan bertumpu pada sebatang tongkat tanpa seorang pun mengetahuinya.

Meskipun sudah tidak bernyawa, tapi jasad itu tetap ditakuti. Jin yang sedang mengerjakan bangunan terus bekerja siang dan malam karena jerih terhadap hukuman Sang Penguasa Besar tersebut. Mereka baru tahu jika sosok yang selama ini ditakutinya tidak lagi berdaya, setelah rayap-rayap menggerogoti tongkat yang menyangga tubuhnya. Tongkat itu akhirnya rapuh dan jasad Sulaiman pun jatuh. Saat itulah semua orang, termasuk jin, baru tahu kondisi Sulaiman yang sebenarnya.

Apa arti seekor atau sekawanan rayap dalam logika kekuatan? Sulit dibayangkan! Inilah persoalan yang menghantui benak masyarakat dunia ketika merasakan dominasi kekuatan Adikuasa Amerika dan Eropa, atau menyaksikan keangkuhan Zionis Israel yang kian hari semakin menampakkan peradaban fir`aunistiknya, Ana Rabbukum al-a`la (Akulah tuhan kalian yang paling tinggi!).

Sebenarnya tidak ada alasan bagi masyarakat dunia untuk takut kepada kekuatan Amerika atau Zionis Israel. Karena tatanan dunia baru (new world order) yang tengah mereka bangun justru lebih mencerminkan wajah Adikuasa yang sedang ketakutan. Konstruksi peradaban dunia yang mereka bangun berdiri di atas fondasi yang rapuh, karena berasaskan ketimpangan dan kezaliman. Hak veto adalah bukti nyatanya. Mereka merasa harus mendapatkan apa yang diinginkan, bukan karena memang berhak mendapatkannya, tapi karena mereka kuat. Karena itulah mereka terus memperkuat diri agar tampil sebagai satu-satunya kekuatan dunia.

Jadi, jelas, “Mereka yang kuatlah yang sebenarnya ketakutan, sehingga selalu berusaha berlindung dengan kekuatannya”. Kata Jawdat Sa`id dalam buku Lima Hadza ar-Ru`b Kulluh min al-Islam. Namun sayang, umat Islam malah takut kepada mereka, “Karena mengira hanya dapat mempertahankan diri dengan kekuatan, ‘kekuatan otot dan senjata’.” Lanjut Sa`id. Artinya, seyogianya umat Islam membangun logika kekuatannya sendiri sehingga tidak terjebak logika kekuatan musuh.

Itulah logika kekuatan rayap tongkat Sulaiman as. Meskipun jelas jauh lebih lemah dari jin, tapi dia sangat mengenali posisinya. Meskipun gerakannya lamban, tapi yang digerogotinya adalah tongkat yang menyangga jasad Sulaiman as. Dalam konteks kekinian, umat semestinya mulai sadar bahwa sebenarnya musuh sangat ketakutan dan rapuh, sehingga tidak perlu menunggu ‘kekuatan mukjizat’ untuk meruntuhkannya, tapi cukup dengan ‘kekuatan rayap’ yang sudah mulai mencuat ke permukaan. Sebut saja Syaikh Ahmad Yasin, Hamas, Gaza, dan tidak menutup kemungkinan jika rayap itu juga adalah kita![]

sumber: Kolom Ibroh, Majalah Islam Sabili No. 17 TH.XVI Maret 2009

Tidak ada komentar: